Malam Ini Aku Ingin Tidur Bersamamu, Ibu
Karya: Alya
Fauzia Khansa
Gerimis
di balik jendela menjadi ucapan selamat pagi yang nyata untukku. Tak ada
sedikit pun sinar mentari masuk menyelusup ke sela-sela jendela yang terbuka.
Lagi-lagi ibu hanya meninggalkan jejaknya lewat jendela itu. Ia tidak pernah
mau membangunkanku dari tidur nyenyak di pagi hari. Ibuku memang tidak seperti
ibu-ibu yang lainnya. Rela menghabiskan suara agar anaknya bangun.
Hal
seperti ini menjadi rutinitas untuk ibu bukan tanpa alasan. Tiga setengah tahun
yang lalu ayah meninggalkan kami. Ia pergi tanpa pamit sedikit pun. Tak ada
surat yang ditinggalkan, tak ada pesan singkat yang dikirimkan melalui ponsel,
tak ada kata-kata yang dikirim lewat surel. Ayah benar-benar menghilang tanpa
jejak. Sejak saat itu, kami melanjutkan hidup berdua.
Semenjak
kepergian ayah, ibu menjadi seseorang yang berbeda. Ia menjadi sedikit
berbicara, menghindari obrolan dengan semua orang, termasuk aku anaknya. Ia
hanya ke luar rumah untuk menjaga toko bunga peninggalan ayah. Dari situ pula
ibu mendapatkan uang dan kami bisa hidup lumayan berkecukupan.
Setiap
hari, kegiatan yang ibu lakukan sudah terbaca, sebab semua terjadwal dan
berulang. Ibu bangun pukul tiga dini hari, namun ia hanya berdiam diri di
kamarnya, memandangi jendela yang tidak ada apa-apanya. Pukul empat dini hari
ia mandi di kamarnya yang sunyi itu. Suara airnya kadang membangunkanku pula
dari tidur lelap. Pukul lima pagi ia turun ke dapur, memasak makanan untukku,
jika memasak selesai dengan cepat, ia tetap akan di dapur, mengerjakan yang
sebenaranya tidak perlu ia kerjakan. Terkadang, mencuci piring yang sudah
bersih, menghangatkan makanan berkali-kali, mengelap meja-meja, apa pun ia
kerjakan asalkan di dapur. Pukul setengah tujuh, ia baru mengunjungi kamarku,
membukakan gorden dan jendela, lalu menaruh uang saku di meja sebelah tempat
tidurku, dan aku hanya bisa berpura-pura tidur agar dapat merasakan hadirnya
ibu dalam situasi yang tidak canggung. Setelah itu ibu pergi ke toko bunga
untuk bekerja.
Setiap
hari, aku ditinggalkan begitu saja, ibu tidak pernah melihat aku makan apalagi
makan bersamaku. Terkadang, aku khawatir apakah ibu sudah makan atau belum.
Pernah sekali waktu, aku mengintip dari kamarku ketika ia memasak. Ternyata, ia
membawa masakannya itu pada kotak nasi. Mungkin sekitar dua kotak nasi ia bawa.
Rasa penasaranku tidak sampai di situ. Aku pergi diam-diam mengikuti ibu ke
toko bunga. Aku memperhatikannya dari jauh, ternyata ia memakan masakannya.
Sejak saat itu, aku pikir ibu dapat makan dengan teratur dan aku begitu tenang.
Pukul
delapan malam, ibu baru pulang ke rumah. Pintu selalu ia buka perlahan, bahkan
sering kali aku tidak mendengar ibu membuka pintu. Lantas, setiap pukul delapan
lebih sepuluh malam, aku selalu turun ke bawah hanya untuk sekadar mengecek,
apakah sandal ibu sudah ada di rak sepatu dekat pintu masuk itu. Hal yang sama
aku lakukan pula, aku takut ibu khawatir apakah aku sudah pulang ke rumah atau
belum, maka sandal yang biasa aku pakai aku taruh di rak sepatu. Aku pun tidak
ingin membuat ibu bingung. Bahkan semenjak kepergian ayah, aku tidak pernah
berganti sandal untuk pulang ke rumah. Jika aku harus memakai sepatu untuk
pergi, sandal itu selalu aku bekal. Setiap pulang ke rumah, aku ganti sepatuku
dengan sandal itu. Lalu, bekas sepatu yang aku pakai aku bawa ke kamar. Aku
pikir, lama kelamaan ibu mengerti polaku ini. Hal tersebut menjadi kebiasaan
kami yang lain, karena jarang sekali di malam hari kami berpapasan. Bahkan
tidak pernah, jika bukan karena aku yang menyengaja ingin melihat ibu.
Setelah
pulang itu, ibu langsung masuk kamar, ia tak pernah keluar kamar lagi. Mungkin ia
tidur atau melanjutkan lamunan yang ia lakukan setiap dini harinya.
Semakin
hari aku semakin terbiasa dengan kehidupanku bersama ibu. Tidak ada senyum,
sapa, atau interaksi apa pun dari ibu untukku. Hal ini membuatku berpikir bahwa
aku adalah alasan ayah pergi meninggalkan ibu. Pernah sekali waktu, aku
memberanikan diri bertanya, mengapa ibu dengan teganya membiarkan aku hidup
berdua dengan ibu tapi seperti tanpa ibu. Aku seperti hidup sendirian. Namun,
ibu tetap dalam pendiriannya. Sekeras apa pun aku bertanya ibu tetap diam tanpa
kata.
Berbagai
cara telah aku lakukan agar hubunganku dengan ibu kembali hangat, walaupun
tanpa ayah. Namun, lagi-lagi usahaku tidak berhasil. Oleh sebab itu, aku
memilih menjalani hidupku sendiri. Walaupun begitu, setiap hariku diwarnai
dengan rasa khawatir pada ibu.
Kebiasaan
ibu bagiku adalah ketidakwajaran. Sering aku berkonsultasi pada orang-orang
dewasa di sekitarku. Dalam hal ini mereka adalah teman-teman ibu (aku tidak
punya saudara sedarah dari ibu atau ayah, mereka dan aku sama-sama anak
tunggal, kakek nenekku pun sudah meninggal dunia). Saran dari mereka adalah,
ibu perlu perawatan, mungkin dokter bisa menangani masalah hati, pikiran, dan
kejiwaan ibu. Karena hal tersebut, aku sering mengajak ibu bertemu dokter,
dengan alasan yang disamar-samarkan. Tapi, ibu tetap menolak keras. Aku merasa
seperti orang yang lemah. Tidak bisa menyeret ibu demi kebaikannya. Aku
terus-menerus kalah. Sampai-sampai orang-orang disekitarku termasuk teman-teman
ibu memilih tidak lagi peduli dengan kondisi kami. Bagi mereka ibu
sangat-sangat keras kepala, katanya percuma mengajak-ngajak dan berusaha agar
ibu sembuh. Ibu tidak pernah mau menurut.
Inilah
kehidupan aku dengan ibu. Jangan pikir aku begitu kuat. Hampir setiap malam aku
menangis sendirian, berdoa pada Tuhan, agar ibu segera kembali seperti dulu.
Kenangan
yang aku ingat tentang ibu dulu adalah ibu sebagai wanita yang begitu ceria.
Setiap pagi, ia membangunkanku dengan cara memelukku erat. Ia mencium kening,
pipi, terkadang memegang perutku dan membuat aku kegelian lalu kita tertawa
bersama. Setiap malam, ibu mengajak aku dan ayah untuk menonton tv, dengan
camilan yang selalu ia buat. Camilan itu kadang berbentuk puding, kadang
sebagai kue kering, kadang keripik singkong dan yang hebatnya ibu membuat itu
sendiri. Rasanya jangan ditanya, ibu paling jago memasak. Enak sekali dan aku
begitu rindu dengan rasanya.
Semua
kebahagiaanku hilang dalam satu malam itu karena ayah.
Kemarin,
menjadi hari terberatku. Lebih berat daripada tiga setengah tahun yang lalu.
Aku menemukan ibu tidak bangun dari tidurnya. Aku kebingungan. Kutelepon teman
ibuku, aku berlari mencari-cari tetangga terdekat. Ternyata ibu meninggalkan
aku untuk selama-lamanya. Ibu benar-benar meninggalkanku sendirian.
Aku
ingat saat itu yang aku katakan adalah “Ibu, aku tidak pernah ingin ibu pergi,
sekalipun senyummu hilang, sekalipun sapamu tak ada, sekalipun hanya tubuh dan
gerakmu yang nampak di hadapanku, ibu bangunlah, beri aku kesempatan untuk
membahagiakanmu, beri aku kesempatan untuk menemukan ayah agar engkau tersenyum
lagi, ibu beri aku kesempatan membuatmu bahagia, aku mohon ibu kembalilah, aku
belum sempat mengucapkan dengan lantang, tegas, dan jujur betapa aku mencintai,
ibu bangunlah!” Namun, ibu tidak pernah menjawab. Orang-orang semakin banyak
mengerubungiku. Proses pemakaman berlangsung begitu cepat. Kini, aku sendirian,
tidak ada ibu dan juga ayah. Rumah besar peninggalan ayah ini sepi seperti tak
bernyawa.
Kepergian
ibu sudah berlalu selama seminggu. Selama itu pula setiap malam aku tidur di
kamar ibu. Aku merasakan hangat selimut yang biasa ibu pakai, aku merasakan
hangat lampu tidur yang biasa ibu pakai, namun saat itu, malam itu, aku
penasaran bagaimana isi lemari baju ibu. Kubuka lemari itu, kutemukan kotak
kecil. Saat kubuka aku menemukan surat yang ibu tulis dengan tangannya sendiri.
Aku hapal betul tulisan tangan ibu.
03 Desember 2016
Teruntuk anakku Adinda tercinta,
Sayang, saat kaubaca surat ini, ibu tahu ibu sudah
meninggalkanmu, ibu tidak bersamamu lagi. Sayang, maafkan ibu, sebab, ibu tidak
pernah memberikan apa yang kamu mau dan yang seharusnya kamu dapatkan. Ibu
tahu, harapanmu adalah melihat senyumku. Ibu selalu terseyum sayang, meskipun
tak pernah kaulihat. Setiap pagi, ibu selalu membukakan jendela kamarmu. Hati
ibu selalu tersenyum, sebab ibu menyembari melihat anakku yang tertidur dengan
lelap, maka kubiarkan kamu tidur agar ibu tidak mengganggu mimpi indahmu, sebab
ibu tahu kenyataan tidak seindah mimpimu itu.
Anakku sayang, ibu selalu menyapamu walau tanpa kata.
Ibu menyapamu lewat mentari pagi yang menyelusup ke sela-sela jendela yang ibu
buka, walaupun tak ada mentari, percayalah setiap gerimis dan hujan yang
datang, mereka selalu datang untuk menyapa pagimu. Anakku aku pun berdoa agar
gerimis juga hujan menemanimu melangkah meskipun dalam basah.
Adindaku tersayang, maafkan ibu yang pergi
meninggalkanmu tanpa peluk. Maafkan ibu yang mengulang kesalahan ayahmu.
Adindaku tersayang, maafkan ibu yang tak mampu menatap
matamu dan berkata jujur, bahwa ibu selama ini mengidap sakit yang serius. Maka
dari itu, ibu membiarkanmu hidup tanpa senyum dan sapaku agar kamu terbiasa
hidup mandiri meskipun tanpa ibu. Anakku Adinda, selama ini, ibu bersikap diam
sebab ibu ingin tahu, kelak jika ibu tak ada, apa yang akan kau lakukan. Maka
dari itu, ibu bersikap seperti tak pernah ada. Namun kamu tahu sayang, ibu
selalu memasak untukmu, sebab ibu sadar ada sisi lain dariku yang tidak sampai
hati membiarkanmu seperti ini. Ibu tak pernah tega meninggalkanmu sendirian
tanpa makanan bauatanku yang mungkin akan kau kenang sebagai kenangan manis
selain senyuman.
Adindaku sayang, ibu begitu senang kau perhatian
sekali denganku. Ibu tahu kau mengikuti ibu ke toko bunga, untuk sekadar
melihatku makan. Sebetulnya, ibu selalu makan pukul sebelas siang, hanya saja
ibu tahu kau mengikuti ibu, maka kubuka bekalku agar kau lihat dan senang.
Sayang, pakailah sepatu sesukamu, apa pun itu, sebab, ibu tahu sepatu mana
milikmu, sandal mana kesukaanmu, ibu tahu selurub barang milikmu.. Tak usah
khawatir ibu tak tahu. Ibu, selalu memperhatikan anakku Adinda.
Sayang, ayahmu kini berada di luar negeri. Maaf, tak
bisa ibu sebutkan di mana tempatnya. Namun yang ibu tahu, ia sudah bahagia
dengan keluarga kecilnya, ibu harap kamu ikhlas atas kepergian ayah dan ibumu
ini.
Adinda, ibu wakilkan permintaan maaf dari ayahmu.
Terimalah kembali ia, jika kelak ia kembali kepadamu. Sayangi ia sebagaimana ia
adalah ayahmu.
Adindaku, berbahagialah dengan lelaki pilihanmu nanti.
Katakan padanya permintaan maaf ibu karena tak sempat menyapa. Sampaikan juga
maaf padanya, sebab bidadarinya ini telah kulukai hatinya.
Adinda, semoga sehelai surat ini dapat menjadi
sepenggal pamit yang kau maknai. Berbahagialah adindaku sayang. Ibu bersamamu
selalu, dalam doa, dalam kenang, meskipun dalam ketiadaan.
Salam.
Dari ibumu
yang teramat menncintaimu.
Tubuhku
bergetar membaca surat yang ibu berikan padaku. Ibu mendidikku begitu keras. Ia
berusaha membentukku agar mandiri dan tidak cengeng. Aku menahan tangis agar
tetes air mataku tidak membasahi tulisan ibu ini. Kulipat kembali surat dari
ibu, namun tidak terasa air mata sudah membasahi wajahku. Aku berdiri,
kucari-cari secarik kertas dan pulpen, kuingin menulis surat untuk ibu. Kuingin
menulis puisi cinta untuknya. Kuingin membalas semua isi surat ini.
Tak
lama aku tertidur di lantai dekat kasur ibu. Keesokan harinya aku pergi ke
tempat ibu berbaring, kutinggalkan kertas balasan untuk ibu, aku berharap ibu
dapat pula membalasnya.
Apakah
masih ada kesempatan seperti itu untukku, Ibu?
Aku rindu
bagaimana tenang kudapatkan ketika tubuh dan tanganmu melingkari tubuhku ini.
Aku rindu
bagaimana napasmu hangat mendarat di rambutku.
Aku rindu
harum tubuh yang melekat di dirimu, Ibu.
Sungguh aku
rindu.
Ibu, jika
waktu bisa aku ulang, berulang kali aku akan kembali di masa-masa indah
bersamamu,
ketika aku
berlari-lari kecil menjauhimu karena tidak mau makan,
saat aku
menangis akibat tidak dibelikan mainan,
tatkala aku
tidak bisa tidur kecuali ada engkau di sebelahku, Ibu.
Ibu,
sungguh,
aku ingin
kembali ke masa-masa itu,
aku ingin
mendengar lagi teriakanmu menyuruhku mandi sore,
aku ingin
mendengar suaramu bercerita tentang Putri dan Pangeran,
aku ingin
mendengar segala hal yang dulu pernah aku lakukan bersamamu.
Ibu, kini
aku sudah beranjak dewasa.
Padahal
saat masih kecil, kukira menjadi dewasa butuh waktu yang lama.
Ternyata
tidak, Ibu.
Anakmu
sekarang berada jauh darimu.
Mencari
jati diri yang sebenarnya.
Padahal
kuyakin, sebenar-benarnya jati diriku adalah ketika aku berada di sisimu.
Ibu, dahulu
aku pernah bermimpi yang sungguh-sungguh buruk.
Aku berlari
ke kamarmu, menghampirimu, dan memelukmu.
Lalu, mimpi
burukku hilang.
Ibu, aku
takut dunia seburuk mimpiku.
Maka dari
itu, Ibu, peluk aku!
Aku rindu
dekap hangatmu.
Malam ini,
aku ingin tidur bersamamu, Ibu.
Aku
kembali pulang setelah memeluk ibu dan memberikan sedikit surat untuknya. Aku pulang
ke rumah. Aku kembali ke kamar ibu. Aku menghampiri kasurnya, memilih tidur
sambil memeluk guling. Membayangkan ibu berada di sampingku, memelukku dengan
erat.
Malam
ini, aku tidur bersamamu, ibu.
Komentar
Posting Komentar